Sensor TV Indonesia yang Berlebihan

Template baruu-Recovered

Anekaberita.web.id  Pertelevisian di Indonesia semakin berkembang dari segi materi. Terutama dalam bidang pengerjaan yang semakin kedepan semakin banyak sensor yang semakin tidak masuk akal yang menyebabkan konten yang di tampilkan semakin tidak masuk akal di sudut pensensoran yang selalu dibahas di media sosial. Sensor yang semakin tidak masuk akal ini semakin lama membuat rating stasiun televisi tersebut kembali menjadi masalah. Sehingga banyak penikmat stasiun televisi tersebut beralih ke media YouTube, sehingga rating dari stasiun tersebut menjadi menurun.Mari kita bahas tentang Sensor Pertelevisian Indonesia yang marak tidak lazim.

Tak ada lagi adegan perempuan berbikini yang bebas lari-lari di pinggir pantai seperti pada film Warkop DKI tempo dulu. Aksi laga di film kolosal dan kartun pun harus dipotong karena dianggap memeragakan kekerasan. Semua ini kena sensor. Bahkan yang pernah ramai diperbincangkan: aktivitas memerah susu sapi pun kena blur. Setelah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dibentuk pada 2002, pakem itu dibuat: perihal konten yang dianggap menggambarkan “pornografi” dan “kekerasan” menjadi perkara sensitif, yang tak bisa sembarang tampil di layar televisi. Jangankan adegan yang diperankan aktor dan aktris, bahkan konten kartun pun bisa kena sensor. Itu dialami karakter animasi Sandy, si tupai sahabat SpongeBob, yang diblur karena memakai bikini. Aksi sensor ini seringkali tak masuk akal, wagu, dan menunjukkan anggapan bahwa penonton adalah subjek yang pasif dan tidak cerdas. Sensor macam itu juga menggambarkan betapa sumir dan luas tolok ukur penyensoran di layar kaca. Imbasnya bahkan mengarah kepada KPI, yang dianggap bertanggung jawab atas aksi sensor tersebut. Mayoritas publik tak tahu bahwa aksi sensor itu dilakukan oleh tim internal stasiun TV bersangkutan.

Baca Juga : RKUHP yang Mengisolasi Kaum LGBT

 

KPI, sebagai regulator, telah menerbitkan pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran. Ia memuat sejumlah poin yang dilarang dalam siaran. Namun, terkadang koridor ini dipraktikkan secara berbeda antara satu stasiun dan stasiun televisi lain. Padahal di sana disebut pelarangan secara rinci sampai ke bentuk-bentuk adegan. Misalnya, larangan sebuah konten acara TV yang mengumbar ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun non-verbal, yang menjurus penghinaan atau merendahkan martabat manusia. Atau, ungkapan yang punya makna jorok, mesum, cabul, vulgar, atau menghina agama dan Tuhan. Artinya, segala adegan maupun guyonan yang menghina secara fisik, seperti yang sering kita lihat pada acara komedi slapstik yang menghina fisik komedian lain, tak boleh dilakukan. Toh, batasan macam ini pernah dilanggar, misalnya salah satu acara Pesbukers (ANTV) ketika pelawak Ely Sugigi mengumpat kata “tai.” Ada juga larangan memuat adegan kekerasan,seperti tawuran, pengeroyokan, penyiksaan, perang, penusukan, penyembelihan, mutilasi, terorisme, pengerusakan barang-barang secara kasar atau ganas, pembacokan, penembakan, dan/ atau bunuh diri.

Regulasi yang diberikan oleh KPI tidak terlalu banyak ,namun ketakutan yang dirasakan stasiun televisi jika tayangan mereka diblokir membuat sensor kembali menjadi.

Related posts