Properti Industri Bangkit Kembali Walau Sempat Lesu Karna Corona

Properti-Industri-Bangkit-Kembali-Walau-Sempat-Lesu-Karna-Corona

anekaberita – Pandemi Covid-19 memberi pukulan yang cukup telak pada sektor bisnis properti saat ini. Pada masa PSBB aktivitas bisnis sangat lesu dan bisa dikatakan bahwa beberapa pelaku bisnis mengalami kerugian cukup parah. Tingginya biaya operasional bisnis properti tidak seiring dengan pemasukan, karena tingkat penjualan juga ikut turun. Kondisi ini tentu membuat industri properti Indonesia mengalami penurunan cukup parah.

Namun, bisnis properti kini sudah mulai bangkit. Memasuki masa new normal aktivitas ekonomi di beberapa sektor termasuk properti sudah mulai berjalan. Peran pemerintah secara langsung menjadi salah satu pemicu bangkitnya aktivitas bisnis properti Indonesia.

Setelah mendapat stimulus dari pemerintah, industri properti Indonesia tampaknya sudah mulai menggeliat kembali. Sebelumnya, selama beberapa bulan pandemi Covid-19, aktivitas properti di Indonesia cukup lesu. Hal ini karena adanya tekanan yang cukup besar pada sektor ini selama masa pandemi.

Paulus Totok Lusida dari Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), mengatakan pada era new normal industri properti sudah mulai bergairah. Adanya peningkatan aktivitas pada sektor ini menjadi angin segar bagi pelaku industri.

“Jadi, sebelumnya yang laku hanya rumah sederhana, sekarang sudah mulai ada kemajuan pada segmen rumah di harga Rp1.5 miliar ke bawah,” ujar Totok menjelaskan kenaikan aktivitas industri properti di Indonesia.

Sebelumnya juga, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan dan menerapkan kebijakan dalam pemberian stimulus bagi perekonomian. Melalui POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease (Covid) – 2019, diharapkan ada peningkatan aktivitas ekonomi salah satunya di sektor properti.

Baca Juga : Pasokan Smartphone di Indonesia Turun dan Harga Naik Karna Corona

Stimulus tersebut sudah berlaku semenjak 13 Maret 2020 hingga 31 Maret 2021 dan ditujukan bagi debitur khususnya untuk UMKM dan sektor yang cukup rentan akibat pandemi Covid-19. Sektor tersebut antara lain transportasi, perhotelan, pariwisata, pengolahan, pertanian, hingga perdagangan.

Diakui juga oleh Paulus, bahwa selama 4 bulan masa PSBB, menjadi pukulan berat bagi mereka yang berkecimpung di Industri properti. Penjualan properti belum memberi hasil yang baik, sementara biaya pengeluaran masih tetap ada selama masa PSBB tersebut. Hal ini tentu menjadi kondisi yang cukup sulit bagi sektor properti.

“Biaya yang selalu keluar tentu seperti listrik, cicilan bunga pokok kepada perbankan, serta biaya operasional untuk karyawan karena pemerintah melarang adanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),” jelas Totok.

Kini pihak REI tetap meminta adanya tambahan relaksasi bagi sektor properti. Mulai dari penghapusan PPh 21, pengurangan PPh Badan, meminta menurunkan PPh final sewa cari yang awalnya 10% menjadi 5% saja, hingga penurunan PPh final transaksi dari 2.5% jadi 1% saja berdasarkan nilai aktual transaksi serta bukan berdasarkan NJOP (nilai jual Objek Pajak).

Totok menyatakan, mau tidak mau sektor industri properti harus melakukan perubahan sistem, strategi, serta konsep hunian. Tujuannya sebagai penyesuaian untuk perubahan kebutuhan konsumen di era new normal ini.

Para pelaku bisnis properti harus bisa melakukan sinergi pemasaran pada strategi virtual dan non virtual. REI sendiri mulai melakukan perencanaan pameran khusus yang melibatkan para anggotanya pada bulan Oktober 2020 mendatang. Selain itu, para pelaku bisnis properti harus berinovasi untuk membangun hunian sehat yang menjadi kebutuhan konsumen saat ini.

Related posts